Tuesday, February 06, 2007

JIWAKU MASIH KERDIL

Malam itu begitu dingin, karena hujan baru saja berhenti. Angin pun kadang masih ingin berhembus, membuat tubuh makin rindu akan kehangatan.

Namun sayup-sayup, muadzin melantunkan undangan. Meminta agar pendengar melangkahkan kakinya menuju rumah Allah. Saat itu Isya, setelah mengenakan baju koko dan sarung, saya hendak membuka pagar rumah. Saat suara lirih itu terdengar

Uhuk, uhuk, uhuk...
Dengan sedikit mengintip, saya mencari-cari sumber batuk tersebut.

Ternyata, di depan pagar ada seorang nenek. Saya taksir umurnya sekitar 70an. Ringkih, dengan pakaian lusuh dan tipis. Berjalan kaki, sendirian, di tengah dinginnya malam. Dengan batuk yang tidak dibuat-buat.

Prasangka berkelebat, lebih ke arah negatif. Tanpa bertanya terlebih dahulu pada beliau, sayapun masuk ke dalam rumah, mengambil uang sebesar tiga ribu rupiah. Saya pikir untuk seorang pengemis, jumlah ini sudah cukup banyak.

Saya keluar, mendekati beliau. Tiga ribu masih ada di saku baju. Dan tanpa diminta, beliau mendahului pembicaraan. Yang membuat uang di saku saya tertahan untuk diberikan pada beliau.

Beliau tidak memiliki keturunan. Kanker rahim penyebabnya. Dan beliau meminta sumbangan untuk biaya operasinya. Deg! saya berfikir uang tiga ribu terlalu sedikit. Sayapun ke dalam dengan rencana mengambil lima ribu. Yang saat itu, saya rasa sudah cukup besar.

Tanpa disangka adik saya bertanya, siapa di luar? Saya jawab begini dan begitu, intinya ada yang minta sumbangan. Dan tanpa pertimbangan berbelit, uang dua puluh ribu ia serahkan kepada saya.

Akhirnya, kami pun memberikan uang senilai dua puluh lima ribu rupiah beserta sebuah jaket bekas yang layak pakai kami sumbangkan kepada beliau. Saat itu saya sedikit tergesa, karena iqamah shalat isya sudah berkumandang. Yang jelas, beliau nampak sangat gembira dengan sumbangan yang kami berikan.

Saat itu, perasaan saya maih biasa.
Barulah setelah shalat saya merenung.

Ya Allah, kerdil sekali jiwa saya...
Padahal saya sanggup menyumbang lebih dari lima ribu. Ga bakalan miskin, ga bakalan jadi kelaperan. Kok kalah sama adik yang bahkan ngga pernah ngaku-ngaku aktivis. Pelit sekali kamu Gah!

Kenapa kamu ngga ngajak beliau makan di rumah, takut ketularan penyakit? Takut rumah jadi kotor? Picik sekali cara berpikirmu Gah!

Padahal saya sanggup mengantarnya ke lembaga sosial terdekat. Siapa tahu biaya operasi beliau menjadi gratis. Siapa tahu beliau bisa diberi modal agar mandiri oleh lembaga zakat tersebut. Egois kamu, mikirin shalat doang!

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu meng-infaq-kan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
(QS Ali Imran 92)

Astagfirullah...
Padahal kamu sering baca surat Al Maa’uun Gah!

2 comments:

Anonymous said...

jadi terharu nih ...:(

oRiDo said...

jadi inget...
hari jumat 2mgg lalu, khatib jumat bercerita ttg hijrah Nabi Muhammad SAW...
Rasulullah pada saat hijrah dan bertemu dengan salah satu shahabat, beliau memberikan 4 point penting, dari ke-empat point tersebut ternyata 3 point lebih ke arah hablum minannas, dan 1 point hablum minAllah..
apa kah ke empat point tersebut??

1. Tebarkan salam
2. Memberi makan orang miskin
3. Silaturahmi
4. Shalat tahajud

dari sini kita bisa lihat bahwa kita sebagai muslim perlu memperkuat hubungan antar manusia..

semoga berguna..