Friday, August 04, 2006

SAYUR KACANG DENGAN BUMBU CINTA

Aa besok mau shaum ngga ?

Begitulah pertanyaan rutin dari ibuku setiap pekan. Rutinitas tersebut sudah berlangsung cukup lama terutama semenjak aku duduk di bangku SMA dulu. Dan jawabanku pun mudah ditebak ngga ah, besok sibuk takut ngga kuat Betul, bahwa aku seharusnya bangga memiliki ibu dengan akhlaq seperti ini.

Namun, ada sebuah momen yang sangat berkesan. Yang membuat diri ini merasa begitu hina karena kemuliaan akhlaq beliau. Hingga linangan air mata pun harus kututupi dari pandangan beliau karena gengsi diri yang begitu tinggi.

Pernah pada suatu waktu ibuku menanyakan hal serupa, dan entah mengapa dirikupun tergerak untuk melaksanakan ibadah shaum senin-kamis tersebut. Dan pertanyaan tersebut pun dijawab dengan kalimat yang berbeda dengan biasanya “InsyaAllah besok Aa shaum”

Pagi dini hari, sekitar jam 3 akupun terjaga. Setelah menyegarkan diri dengan mencuci muka, akupun bergegas turun ke bawah untuk membangunkan ibuku. Pintu kamarpun kubuka, dan beliau nampak sangat nyenyak tidurnya.

Hmm...aku baru sadar keletihan beliau setelah bekerja seharian di kantor pusat sebuah perusahaan telekomunikasi nasional. Aku baru sadar jika kesibukanku selama ini ternyata sama sekali tidak sebanding dengan beliau. Karena selain bekerja beliau pun harus mengurus kami, anak-anaknya terutama adikku yang masih di bangku SD.

Rasa segan menghinggapi hati, namun karena teringat kesepakatan tadi malam akupun membangunkannya dengan hati-hati. Dengan wajah kusut beliau terbangun dan bertanya Hah, jam berapa a? Setelah kujawab, beliau langsung bergegas keluar kamar dan nampak merasa bersalah Aduh a maaf, lauknya ngga ada apa-apa. Dimasakin dulu ya? Tanyanya

Momen tersebut nampak sederhana, namun menimbulkan kesan mendalam pada hatiku.

Bayangkan, dalam kondisi letih dan baru terjaga dari tidurnya yang pertama diingat bukanlah kepentingan diri beliau. Namun yang diingatnya justru KEPENTINGANKU, beliau lebih khawatir jika aku tidak puas dengan menu sahur pagi itu. Maka dengan penuh rasa bersalah, akupun berpura-pura melihat meja makan dan melihat ada sayur kacang sisa tadi malam disana.

Bu, ngga usah masak. Sayur kacang juga udah cukup kok Setelah dipanaskan di dapur, beliaupun menghidangkannya di meja. Akupun mengambil nasi, lalu menyendok sayur tersebut ke piringku. Kumasukkan sesendok nasi dengan sayur kacang tersebut ke dalam mulutku.

Amis dan sedikit asam rasanya.

Namun tak kupedulikan sedikitpun rasa itu. Kumakan dengan lahap menu sahur pagi itu. Karena aku yakin, sayur kacang ini menggunakan bumbu cinta...

Rasulullah SAW pernah bersabda : Sungguh merugi, sungguh merugi dan hina seseorang yang bersama kedua orangtuanya atau bersama salah seorang diantara keduanya hingga lanjut usia, kemudian ia tidak dapat masuk syurga (HR Muslim)
Maka Imam Nawawy menjelaskan bahwa hadits ini seolah-olah menggambarkan betapa mudahnya seseorang memasuki syurga, asalkan ia masih berbakti kepada orangtuanya dan mendapat do’a serta keridhaan orangtua yang merasa puas kepadanya

3 comments:

nuyi said...

duuhh, emang ya, yang namanya ibu tuh.. persis kyk ibuku banget deh.. semoga kita berkesempatan untuk membalas cinta ibu kita ya, baik di dunia maupun di akhirat. amiin. btw, salam kenal...

al fath said...

hehehe, i see it's so crystal clear.. you wanna have a wife like your mother.. :D
cheers, no offends

pulzzahut said...

wah aneh2 aja namnya.. btw sy suka kreasi anak bangsa