Tuesday, November 07, 2006

BELUM SAATNYA CINTA

Cinta merupakan hal yang manusiawi. Bukan untuk dipendam dalam-dalam, bukan juga untuk diekspresikan dengan liar. Namun ia perlu dikendalikan, disalurkan pada pipa-pipa bernama perjuangan.

Terkadang atau bahkan sering sekali. Saat kita merasa cinta pada seseorang, misalkan ortu, adik, sahabat, maupun si dia. Kita sangat menginginkan untuk memilikinya. Kita sangat ingin agar dia melakukan apa yang MENURUT KITA baik untuk dilakukannya.

Bila kita menemukannya melakukan sesuatu yang MENURUT KITA tidak baik, maka kita marah, sedih, kecewa. Namun hari ini saya sadar bahwa hal tersebut adalah sebuah kesalahan besar.

Kita bukan Sang Pencipta. Yang notabene mengetahui apa yang SEBENARNYA baik maupun buruk bagi seseorang. Manusia diciptakan dengan segala keunikannya. Manusia diciptakan untuk menjalani peran khususnya. Betul bahwa tujuan penciptaan kita adalah ibadah, namun janganlah kita persempit maknanya.

Ada manusia yang perannya menebarkan ilmu yang mencerahkan
Ada juga yang perannya menebarkan harta yang memberdayakan
Tapi ingat, bukankah menebarkan senyuman pun ibadah?

Kembali lagi pada sang cinta. Alkisah Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang sedang menapaki tangga puncak amanah ternyata mendapatkan tawaran yang mengejutkan. Ia ditawari oleh istrinya untuk menikah lagi! Tidak tanggung-tanggung, istrinya sendiri yang memilihkan gadis beruntung tersebut bagi suaminya.

Adalah wajar bila seorang pahlawan memiliki kebutuhan akan kasih sayang dan kelembutan lebih dari orang kebanyakan. Dan sang istri ternyata memahami fitrah kepahlawanan tersebut. Ironisnya, ternyata gadis yang ditawarkan merupakan romantisme masa lalu Umar.

Dahulu, ada sebuah momen dimana Umar mencintai sang gadis. Dan sang gadis pun memberikan respon positif. Namun, atas nama kecemburuan justru sang istrilah yang menghalangi benih ikatan itu. Kini, kondisinya berputar balik. Justru sang istrilah yang menawarkannya pada suami tercinta.

Dorongan itu begitu kuat, gairah cinta meletup-letup. Dan lagi, pintu kesempatan terbuka begitu lebar. Namun, sekelebat kesadaran membuka tabirnya dalam benak sang khalifah.

TIDAK, Saya belum sepenuhnya merubah diri jika masih kembali pada dunia perasaan semacam ini.

Begitulah Umar, maka diapun justru menikahkan gadis tersebut dengan seorang pemuda.

Saat sang gadis bertanya

Dulu kita pernah saling cinta, namun kemanakah cinta itu sekarang?

Dengan penuh haru Umar bin Abdul Aziz menjawab

Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam

Maka, cinta itu pun digunakan sang khalifah untuk menjemput takdir kepahlawanannya. Jalan perjuangan. Dan begitulah, hari ini saya baru menyadari. Bahwa belum saatnya cinta. Belum saatnya ia diekspresikan.

NB : terinspirasi sebuah momen merah jambu dan juga dari buku berjudul Mencari Pahlawan Indonesia by Anis Matta

9 comments:

Anonymous said...

Saya baru mendengar kisah tentang Umar bin 'abdul Aziz yang seperti itu. Sumbernya ?

owner said...

udah saya cantumkan di akhir tulisan

Donny said...

Oh, iya...buku yang bagus ;)
Cinta teh naon sih? Hehehe...

M. Awan Eko Sabilah said...

ada dunia
dimana cinta tidak semelankolik nan rapuh kisah qois-layla
cinta berarti memberi
laiaknya jalan pejuang
yang tak pernah kering
ditulis dengan peluh, airmata dan darah
bukan untuk siapa
sekedar memuja-Nya

afin yuliani said...

Cinta, susah dimaknai Gah, terkadang kita mengatakan cinta tetapi menyakiti, bukan secara fisik tapi perasaan,katanya ikhlas tapi kok blas, jadi cinta itu apa? Sesuatu yang tanpa pamrih? Ah masa.... (sambil garuk kepala)

fathy said...

aaaaaah...
sy jatuh cinta sama tulisan ini sejak pertama kali baca!
hehe..

*ngusap2mata.tb2berair,gah:)*

Anonymous said...

kata orang-orang sih, cinta yang mendatangi manusia. however, kata psikolog sih, merasakan sesuatu adalah bagian dari keputusan kita. ribet juga ya berarti. anyway, selamat untuk tidak memutuskan jatuh cinta, sebelum saatnya; perjuangan yg berat mungkin ya bagi sebagian orang ^_^.

owner said...

jazaakumullah khair atas semangat dari sahabat2. bahagia sekali ada yang bersedia meluangkan waktu nasihatin saya walaupun dalam kenyataannya sedetik pun kita belum pernah bertemu langsung. I love you, fillah ...

Fatimah Alkaff said...

i love you to Aa Gah.. :) in the name of Allah in the spirit of jehad.. :)