Sunday, January 14, 2007

JATUH CINTA PADA SEORANG IBU-IBU

Kemarin2 saya baru saja jatuh cinta. Bukan dengan wanita sebaya, tapi dengan sorang ibu berusia separuh baya. Dan rasanya memang indah karena sudah cukup lama saya kehilangan energi bernama cinta *orang yang aneh*

Hari itu bertepatan dengan idul adha. Dan seperti rutinitas tahun sebelumnya. Selepas shalat, saya pulang dulu untuk makan pagi dan bermaaf-maafan dengan keluarga. Then, setelah berganti baju dengan setelan yang paling kucel, saya langsung cabut bersama bapak untuk membantu panitia di masjid.

Intermezzo : Tahukah anda siapa yang paling ditakuti oleh seorang narapidana dengan vonis mati? Sang eksekutor? Bukan, namun sang pembaca vonislah orangnya. Karena sang pembaca vonis inilah yang akan menentukan kapan napi dieksekusi, dengan metode apa napi dieksekusi, dsb. Dan, itulah jabatan saya dalam kepanitiaan.

Yap, sayalah sang pembaca nomor urut hewan kurban. Sayalah yang menentukan hewan kurban nomer berapa yang disembelih duluan. Dan hari itu saya telah membuat empat puluh lima domba dan sembilan sapi dieksekusi, tanpa setitik pun noda darah mampir di baju saya. Sungguh manusia berdarah dingin, huahahaha *ketawa ala raksasa*

Heup, tobat ! Kita terusin ceritanya. Nah sorenya kan daging kurban mulai didistribusikan nih. Dan panitia meminta kami, para anak muda belia *halah* untuk mengantarkan daging tersebut ke rumah seorang ibu menggunakan mobil box.

Mobil tiba di sebuah rumah dengan cat krem bertingkat dua. Tidak mewah, namun sulit untuk dibilang tidak bagus. Saya kenal dengan pemiliknya. Ibu P inisialnya. Nah, saat kami tiba ternyata di depan rumah beliau sudah berkumpul banyak ibu-ibu dengan wajah harap-harap cemas.

Dikirain menanti saya, eh ternyata menanti pembagian daging. Oh saya baru tahu bahwa ternyata Ibu P ini diberi jatah sebegitu banyak daging oleh panitia karena memang sudah biasa menjadi koordinator bagi ibu-ibu dhuafa. Dan beliau bersedia menjadikan rumahnya sebagai pos pembagian. Subhanallah, luar biasa ada seorang ibu rumah tangga dengan rasa empati sebesar ini.

Saat itulah saya mulai mengingat-ingat daftar kebaikan beliau selama ini. Hmm, beliau adalah koordinator pengajian ibu-ibu tiap kamis sore di masjid. Baksos juga kalo ngga salah inisiatornya beliau. Trus kalo ramadhan pas shubuh biasanya masjid diserbu oleh ratusan ibu-ibu yang mau tadarus, yang mimpin masih beliau. Dan sekarang pas idul adha, pimpinan ibu-ibu tim pemotong daging di ruang belakang masjid adalah beliau.

Fiuh, sekarang ngga tau kenapa saya melihat beliau nampak begitu cantik di usianya yang separuh baya. Mungkin inilah yang dinamakan inner beauty. Saya jadi inget pas dulu beliau pernah ngomong gini ke saya ”Coba kalo ibu punya anak perempuan, ibu jodohin dengan kamu Gah”

Alhamdulillah-nya nih, anak beliau berjenggot semua. Untung aja, karena hingga kini saya masih menjadi seorang pria yang terlalu mudah untuk jatuh cinta. Bebas euy! Hehehe

2 comments:

afin said...

hehehehe, betapa mengagumkan si ibu ya gah? semoga ada seseorang di luar sana yang bisa memenuhi harapan perempuan yang memilih surga bagimu

Adilla said...

Thanks for sharing :).Inner beauty itu luar biasa hebat ya?