Thursday, May 03, 2007

SIDANG MAGANG

Anugerah Perdana NPM : 103400723
akan melaporkan hasil magangnya dgn judul

STRATEGI TURNAROUND
KLINIK KONSULTASI BISNIS UKM & KOPERASI JAWA BARAT
MELALUI KEMITRAAN DENGAN LEMBAGA TERKAIT

Mohon Doa Restu
Khususnya dari para penggemar
Hehehe...

UPDATE :
Alhamdulillah, berkat dukungan dari berbagai pihak, sidang laporan magang tersebut meraih nilai tertinggi dengan skor 3,64 alias A.

Mungkin karena tema yang dipilih agak "beda" sama temen-temen yang lain, yaitu dunia Usaha Kecil Menengah dan Koperasi. Soalnya temen-temen yang lain mah banyak-banyaknya tentang perusahaan gede.

Tapi, perjuangan belum usai karena masih harus proposal, sidang proposal, skripsi, sidang skripsi, dan akhirnya baru deh... wisuda !!!

NB : Nikah mah kapan-kapan aja =P

Sunday, April 29, 2007

SIAPA YANG MENGAJAK ANDA 1

Alhamdulillah, setelah sekian lama, akhirnya muncul juga mood buat nulis. Maaf kalau anda masih suka berkunjung ke blog ini dan akhirnya merasa menyesal karena menghabiskan waktu untuk melihat tulisan yang itu-itu aja. Punten yah.

Ok, lets start…

Judul diatas sengaja saya pilih itung-itung flashback, mengenang siapa saja orang yang memberi warna lain dalam perjalanan hidup saya.

1. Siapa yang mengajak saya pertama kali ke Stadion Siliwangi? Saya lupa, entah Yudi, Umar, atau Andri. Yang jelas temen-temen sekelas di 3C SLTPN 13 Bandung. Saat itulah saya diresmikan menjadi bobotoh Persib. Karena, bukan bobotoh kalo belum pernah nonton langsung di stadion.

Saya masih inget saat tas kami digeledah, dan botol aqua yang kami bawa disita. Mungkin dikiranya kami bakalan berbuat anarkis. Plis dong, emang saya ada tampang kriminal…Oya, walau pertandingan mulainya jam 15.30, biasanya kami dateng pukul 14.00. Biar kebagian tempat yang asoy, sehingga kalo gol terlihat sejelas-jelasnya. Karena masalahnya, di stadion, tiada replay saat gol terjadi.

Momen-momen emosional yang sulit terlupakan ialah saat ombak suporter (mexican wave) yang bergelombang dari tribun ke tribun. Rasanya puaas banget saat tiba giliran kita untuk berdiri, mengangkat kedua tangan, dan berteriak WHOOY sekerasnya.

Selain itu, saat pertandingan usai jam 17.30 biasanya kami selalu ikut pawai dimana ribuan bobotoh berjalan dari stadion ke alun-alun kota. Memadati jalan, sambil bernyanyi-nyanyi meneriakkan yel-yel untuk Persib sambil dikawal oleh pihak kepolisian. Sebuah kejadian yang kami anggap keren keren, dan akan kami pamerkan habis-habisan pada teman-teman sekelas keesokan paginya.

Sekarang, saya udah ngga pernah ke stadion lagi. Kenapa? Alhamdulillah sekarang mah saya udah ngerti kalo solat 5 waktu itu wajib. Coba perhatiin, dari cerita saya diatas ada dua sholat yang biasanya bablas bila kita nonton ke stadion. Yaitu Ashar dan Magrib. Dan ngga ada ceritanya gara-gara ke stadion, solat kita bisa di jama’

Nah, tapi ritual nonton tiap Persib maen mah hampir tidak pernah terlewatkan. Bedanya, sekarang partner saya adalah dua adik perempuan saya, Puput dan Tria. Biasanya kami nonton bareng di kamar ortu. Walau perempuan, Kalo kelakuan sih, boleh diadu sama bobotoh di stadion. Hehehe...

2. Siapa yang mengajak saya pertama kali ke warnet? Rio Akhmad, sohib nyontek, yang duduk di geng shaf terbelakang pas kelas 1 SMAN 8 Bandung. Saya pertama kali diajak sama dia ke warnet buat chatting di rileks.com. Awalnya saya cuma merhatiin, tapi dasar makhluk penasaran, akhirnya saya ikutan nyewa komputer di sebelahnya, biar bisa ngintip plus konsultasi instan kalo ada yang bikin bingung.

Yang garing, biasanya kami suka mendekati seorang cewek yang sama -biasanya mahasiswi- di chatroom tersebut, sambil saling tebar pesona satu sama lain. Mungkin cewek itu merasa tersanjung karena ada dua orang pria yang berebut untuk menarik perhatiannya. Padahal, yang dia hadapi hanyalah dua anak SMA yang bersebelahan didalam sebuah warnet murah meriah.

Kini, hasil dari ajakan Rio ke warnet, saya dikit-dikit udah bisa bikin email, ngelola milis, chatting via YM, download something, ngikut friendster, dan nge-blog kayak sekarang. Rio dan saya masih kontak hingga saat ini, khususnya dalam dunia per-futsal-an. Setahu saya mah dia teh sekarang kuliah di Manajemen UNPAD 2004

3. Siapa yang mengajak saya pertama kali untuk berdagang? Agna Dian Fahmi, temen di kelas 2 SMA, kalo jalan cepet banget, tapi lama banget untuk tiba di tempat yang dituju. Why? Becoz, orangnya ramah banget, tiap ketemu orang, pasti dikasih paket spesial yaitu : satu senyum, dua ayunan jabat tangan, dan beberapa menit obrolan ringan.

Saya diajak dagang, sehubungan Agna ini punya kenalan agen buku. Namanya Shibgoh Agency, yang konon kabarnya merupakan salah satu perintis dunia agen perbukuan dan majalah islami di Bandung. Sistemnya sangat mendukung buat entrepreneur pemula kayak kami, konsinyasi. Kita ambil barang tanpa modal, kalo udah laku tinggal bagi hasil. Kalo ngga laku? Ya tinggal dikembaliin. Beres. Apa kabar ya dengan Shibgoh Agency sekarang?

Pertama kali kami mulai dagang buku di kelas, berlanjut ke bazaar yang keuntungannya sampai ratusan ribu, hingga berjibaku sejak dini hari demi mendapat tempat strategis untuk mengelar tikar di pengajian seorang ustadz di daerah bandung utara.

Dari hasil ajakan Agna tersebut, alhamdulillah di kelas 3 saya memulai dagang pisang molen ke kelas-kelas. FYI, pisang molen disini adalah pisang yang digulung terigu secara melingkar, pasti kenal dong? Saat itu, belanja bada subuh di pasar kosambi pake motor bebek tahun tujuh puluh adalah salah satu momen ternikmat dalam hidup saya. Sampai akhirnya di angkatan, saya mendapat gelar kehormatan, Agah Molen.

Sekarang, berkat ajakan Agna dahulu, saya bersama dua orang sahabat yaitu Pri dan Ratna, memiliki sebuah bimbingan belajar privat yang sudah berjalan sejak April 2004. Alhamdulillah, walau belum berbadan hukum, profil kami sudah dua kali dimuat di harian pikiran rakyat. Hingga saat ini, kami telah menjadi fasilitator bagi puluhan mahasiswa yang ingin mencoba meringankan beban orangtuanya dengan menjadi guru privat.

Oya, bagi teman-teman yang ingin ikut bergabung, kebetulan kami sedang membuka lowongan, silakan saja kirimkan CV anda ke alkemis@gmail.com. Syaratnya mudah kok, anda cukup kuliah di PTN dan menguasai 2 diantara pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, dan Bahasa Inggris tingkat SMA.

Lowongan ini berlaku hingga hari Sabtu, 5 Mei 2007, jam 23.59 WIB alias sepekan lagi !! Fasilitas yang didapat, selain insentif yang cukup besar (cihuy), juga training pengembangan diri, misalnya interpersonal communication for teacher. Ditunggu ya CVnya !

Oya, kembali lagi, walaupun setahun lebih tua dari saya, sekarang Agna kuliah di Manajemen UNPAD 2005, saya doakan agar beliau cepet-cepet nikah lah, biar halal, hehehe...

Bersambung

Wednesday, March 28, 2007

KESETIAAN ITU ADA DI PAGI HARI

Pagi itu seperti pagi biasanya, hembusan dingin bersiap pergi untuk digantikan hangatnya sang mentari. Dan pagi itu, saya, anda, dan kita semua akan dengan mudah memahami. Bahwa kesetiaan itu dapat ditemukan setiap hari.

Di pagi hari, kita akan sering menemukan mereka yang berlari pagi. Dan mayoritas, tentu mereka yang sudah berusia lanjut. Ada yang berolahraga sendiri, dan ada pula yang berpasangan.

Lari pagi, bagi mereka, mungkin merupakan bentuk romatisme tersendiri. Berkeliling kompleks perumahan, taman, dan tempat-tempat menyejukkan lainnya sembari merasakan kenyamanan, kedamaian, dan kehangatan hati.

Jika kita pernah menyimak obrolan mereka, mungkin akan terkesan remeh. Mengomentari cuaca, kabar teman lama, berita TV tadi malam, dan sebagainya. Tapi bukankah sangat indah apabila waktu kita dihabiskan, dalam langkah demi langkah di pagi hari, bersama seseorang yang cintanya sudah terbukti?

Saya pun membayangkan, saat empat puluh lima menit sudah membuat keringat mereka membasahi baju, mereka menepi. Menjadi jalan rezeki bagi sang penjual bubur ayam. Jangan pakai sambal, jangan pakai kacang, seru mereka.

Saat menu diantarkan, dan hidangan siap disantap, sang kakek menatap pasangan yang telah menemani harinya selama puluhan tahun. Senyumannya diiringi gumaman syukur dan doa. Sang nenek yang merasa ditatap, mengalihkan pandangannya dari mangkuk bubur.

Dan dalam sepersekian detik, sang kakek pun buru-buru mengalihkan pandangannya. Sambil menutupi salah tingkahnya, beliau mengatakan

”kamu cantik hari ini, sayang”

YANG MANA YANG KITA RINDUKAN

Saat sedang santai, saya sering merindukan masa-masa saat kesibukan melanda. Nikmatnya kurang tidur, nikmatnya kepala migrain, nikmatnya saat tubuh basah diterpa hujan deras, nikmatnya pikiran yang terus bekerja, dan nikmatnya keluh kesah dan rintihan doa di waktu shubuh.

Namun kini saat saya mengalaminya, saya justru merindukan masa-masa saat waktu berjalan begitu panjang, santai. Nikmatnya membaca cerita sambil tiduran, nikmatnya tidur siang sambil berselimut, nikmatnya melamun mengenang episode cinta.

Ah....manusia memang jarang bersyukur yah

PENGORBANAN ADIK BINAAN

Saya memiliki sebuah EO kecil-kecilan. Dan rutinitas tahunannya adalah mengadakan talkshow pengenalan jurusan kuliah untuk remaja. Tahun lalu acaranya terbilang sukses. Lima ratus pelajar SMA se-Bandung menghadiri acara tersebut.

Kini ceritanya berbeda, banyak acara sejenis bermunculan, dan diadakannya sebelum acara kami. Jelas, keterlambatan momen ini akan membuat dampak yang besar. Beberapa sesi sepi, walaupun beberapa yang lainnya dipenuhi peserta.

Yang ingin saya ceritakan bukanlah sudut pandang finansialnya, namun momen emosionalnya. Sebagai penanggung jawab acara, saya pernah stress tingkat tinggi karena peserta yang daftar baru seorang, padahal acara dilaksanakan keesokan harinya.

Otak diputar, doa makin kenceng, dan akhirnya beberapa solusi berlompatan dari otak. Singkat cerita, agar acaranya ramai, panitia memutuskan untuk mengundang perwakilan setiap SMA secara gratis. Ini sih masih biasa aja.

Yang luar biasa adalah, saat adik-adik binaan saya, beberapa menit sebelum acara dimulai, berdatangan. Walaupun mereka punya kesibukan, walaupun acara ini mungkin tidak berhubungan dengan jalan hidup mereka, mereka hadir.

Walaupun rumah mereka jauh, dan mereka tidak dibayar sepeserpun untuk hadir, mereka tetap rela untuk meyukseskan acara yang diadakan oleh kakak mentornya ini. Dan tambah lagi, mereka tidak datang sendirian, mereka mengajak teman-temannya. Alhasil, acara pun menjadi ramai. Pembicara tidak kecewa, dan panitia ceria. Cihuy !

Sungguh, saya sangat terharu hari itu. Saya belajar banyak dari adik binaan saya yang berkorban tanpa pamrih, tulus. Maka pada hari itu pun saya berikrar.

Adikku, kalaulah kalian meminta untuk diadakan mentoring. Baik di hari libur, atau disaat saya sedang ujian pun, akan kupenuhi, insya Allah !!

NB : Jazaakumullah khair kepada Teguh, Galih, dan Fajar yang hadir hari itu. Semoga SPMBnya sukses ya...

PEKAN TAK TERLUPAKAN

Pekan ini banyak hal besar yang terjadi dalam hidup saya, dan semuanya terjadi tanpa pernah direncanakan secara matang. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah

1.Saat acara talkshow yang kami adakan kurang begitu menggembirakan, seseorang dari EO besar di Bandung menelepon saya dan meminta kami untuk mengadakan acara berkonsep serupa di Pameran Pendidikan Tinggi se-Jawa Barat. Padahal, sebesar apa sih acara kami itu?

2.Saya yang dahulu pernah meraih rangking terakhir di bangku SMA, dan gagal masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN), diminta untuk menjadi moderator dalam Talkshow Entrepreneur Muda Islam yang justru diadakan oleh mahasiswa UNPAD. Saya tampil sepanggung sama Abdurrahman Yuri (CEO MQ Corp) dan Supardi Lee (Britz Holding Company). Please, emang dibanding mereka, saya ini siapa?

3.Saya diikutsertakan dalam musyawarah awal pembentukan cabang ormas dakwah yang jaringannya dapat dikatakan sangat luas di Kawasan Timur Indonesia. Dan, yang hadir dalam musyawarah itu adalah para Ustadz yang lulus cumlaude dari Universitas Islam Madinah. Ya ampun, padahal saya ke arab aja belum pernah gitu loh!

4.Profil saya dimuat di koran Pikiran Rakyat edisi kampus. Padahal, masih banyak mahasiswa lain yang peran sosialnya jauh lebih hebat dari saya, bahkan ada yang sampai internasional.

Alhamdulillahnya, saya cepet sadar. Bahwa kemudahan yang Allah berikan itu bukan berarti standar sukses. Dan saya setelah momen-momen tersebut makin mantap dengan standar kesuksesan yang saya tetapkan.

Sukses itu, bermanfaat bagi umat dan diniatkan karena Allah, begitu...
Insya Allah lain waktu kita bahas okeh!

Monday, March 26, 2007

HANGAT, NIKMAT, BERPAHALA

Fiuhh...
Mungkin malam yang mendung ini cocok untuk menggambarkan kepenatan saya beberapa hari terakhir ini. Shalat isya di tengah sejuknya bandung utara tidak membuat lompatan demi lompatan pikiran jadi terkendali. Bisnis lagi sedikit stagnan, saya asumsikan karena pencatatan yang kurang rapi. Maka malam itupun saya memutuskan untuk mencari-cari software keuangan di sebuah toko buku terkenal.

Kunci stang saya pasangkan, dan pintu mobil pun saya tutup. Toko buku tersebut ada di dalam sebuah mall yang sangat luas. Dan, saya baru sadar, sudah lama sekali kaki ini tidak menginjakkan dirinya di tempat yang menjadi ikon materialisme, cieh...

Dan ada yang beda. Perasaan dulu-dulu, kalaupun pergi ke tempat kayak gini, ngga ada cerita Agah jalan sendirian. Kalo ngga bareng keluarga, ya pasti barengan temen. Temen dalam artian sebenarnya, bukan temen tanda kutip. Karena saya adalah anggota pasukan pengibar bendera jomblo sebelum janur kuning terpampang hehehe...

Belum jauh kaki beranjak dari mobil, saya melihat dunia yang sungguh lain. Di pelataran mall, mungkin ditempati oleh sekitar enam kafe, saya melihat cukup banyak pengunjung seusia saya yang dengan asyiknya bercengkrama dengan teman se-geng-nya.

Dunia ini tampak sangat lain bagi saya, karena saya tahu persis akan tingginya biaya yang mereka keluarkan demi secangkir kopi, misalnya. Sementara dalam minggu-minggu ini, saya kelimpungan memikirkan gimana caranya agar penjualan usaha meningkat. Life its so easy for them, i think...

Ok, saya ngerti betul bahwa mereka bukan mengeluarkan uang untuk membeli makanan. Tapi demi sebuah pengalaman. Mata kuliah marketing banget lah! Yang mereka konsumsi bukanlah makan atau minum, tapi memorable experience saat semua aspek makanan, minuman, interior, kehangatan, dan kenyamanan membaur menjadi satu.

Masalahnya, standar yang digunakan ialah standar layar kaca, yang biasa kita liat di TV-TV. Yang tidak semua bisa menikmatinya, betul !?

Maka sepulang dari sana, saya singgah sebentar di sebuah jalan sepi. Dimana disana terlihat penjual nasi goreng yang nampaknya berharap keras agar pembeli menghampirinya. Sudah jam sepuluh malam, dan akhirnya Allah kirimkan seseorang untuk menjadi jalan rezeki baginya.

Orang itu adalah saya, dan senyumannya pun menyapa saya. Setelah memesan dan duduk. Saya menikmati tarian tubuhnya. Caranya memotong, caranya menggoreng, caranya mencampur. Dan ditutup dengan sajian menu dengan asap mengepul di atasnya.

Ditambah segelas teh yang baru saja diseduh.
Saya rasa, inilah kehangatan sejati.

Hangat, nikmat, berpahala, dan tidak lupa
Ga bikin dompet jebol hehehe...

Sunday, February 25, 2007

OM AGAH

“Om Agah, kemaren Ajay disuntik loh!”

Ya Allah, sejak kapan status saya jadi om-om hehehe

”Oh gitu, nangis ngga?” Tanya saya penasaran

”Nangis, abis sakit sih”

Tiba-tiba satu lagi anak perempuan temen se-geng-nya si Ajay mendekat

”Kalo saya mah ngga nangis loh Om”

”Wah hebat!, dulu pas pertama pake anting nangis ngga?”

”Ngga” Jawabnya bangga

Wah si Ajay kayaknya sirik tuh temennya saya puji

”Eh Jay, lain kali kalo disuntik lagi ngga akan nangis kan?”

”Ngga!”

”Nah, gitu dong, hebat! Om Agah pulang dulu ya...Assalamu’alaikum”

”Kum Salam! Dadaah” Jawab mereka serempak

Temen saya yang melihat obrolan ringan itu dari pelataran kosannya nampak senyum-senyum. Entah apa yang dia pikirin.Tapi kalo saya pikir-pikir, ternyata saya punya bakat terpendam ya.

Bakat apaan?
Bakat jadi Om-Om hihihi....

NB : Terimakasih pada pemerintah khususnya Depkes yang telah bersusah payah melakukan imunisasi campak hingga ke pelosok Indonesia, sing ikhlas ya! Aku mendukungmu

SATU LAGI, PAHLAWAN KEHIDUPAN

Alhamdulillah, entah mengapa saya cukup sering dipertemukan orang-orang dengan sifat dan perilakunya mirip. Yaitu mereka yang miskin popularitas, namun banyak memberi manfaat bagi lingkungannya.

“Kalau begitu, bagaimana caranya ibu dapat menghidupi keluarga?”

“Agah, Allah sudah menjamin, bahwa bila kita menolong AgamaNya, maka kitapun akan ditolong olehNya”


Dialog diatas adalah penutup dari obrolan kami pagi itu, di sebuah pelataran masjid kecil Bandung Utara. Saat itu kami sama-sama sedang menunggu seseorang yang nampaknya akan datang terlambat.

Ibu Rika & Pak Munawar namanya, duet maut pahlawan di kompleks perumahannya. Beliau adalah pasangan yang menjadi pengayom bagi belasan atau bahkan puluhan anak yatim. Beliau adalah mereka yang paling sibuk membuat proposal, merancang acara, dan aktifitas2 khas lainnya dalam rangka mengetuk hati donatur, bahwa masalah bangsa ini bukan hanya untuk dikeluhkan.

”Memang, bapak dan ibu kerja dimana?”

Pertanyaan spontan ini muncul karena agak aneh ada suami istri yang kompak bepergian di pagi hari. Karena biasanya kan salah satunya pasti ada yang kerja kantoran.

”Oh, kalo bapak mah ngajar privat Al Quran tiap sore/malam, sedangkan kalo ibu mah mimpin majelis taklim di kompleks”


Jawaban beliau berlanjut dengan aktifitas kesehariannya. Bu Rika menceritakan bahwa suami tercintanya baru saja terkena penyakit jantung. Tidak akut, alhamdulillah, namun tetap perlu perawatan yang tidak sedikit ongkosnya.

“Darimana uangnya?” pikirku

Seperti yang bisa membaca pikiran saya, beliau menjawab
“Alhamdulillah Agah, kami mah selalu berusaha bersikap baik pada lingkungan. Menyapa, tersenyum, dan membantu sebisa kami. Dan mungkin sebagai dampaknya, merekapun banyak membantu kami dalam keseharian. Contohnya saat bapak diberikan surat pengantar dari kelurahan untuk mendapatkan pengobatan secara gratis ke rumah sakit”


Dan ada yang unik disini, semenjak sang suami sakit, ibu Rika menjadi rajin mencari-cari buku yang berhubungan dengan penyakit jantung. Dan setelah beliau membacanya, tidak dipendam di rumah saja. Namun beliau menyampaikannya ke tetangga, dan majelis taklim binaannya mengenai penyakit ini dan solusinya. Maka kini, jadilah beliau konselor kesehatan di lingkungannya.

Yah, Allah memang Maha Adil. Untuk menjadi manusia yang bermanfaat, gelar dan kekayaan bukan merupakan syarat mutlak. Bahkan keduanya bisa menjadi penghambat bila ”gengsi” dikedepankan.

Terakhir, dari obrolan itu, beliau juga berpesan, bahwa perjuangan dalam memberi manfaat bagi lingkungan tidak terlepas dari dukungan pasangan yang memiliki visi hidup yang serupa.

"Waduh ibu, saya mah nikahnya masih lama" Hehehe...

Untuk penyemangat kita-kita nih,

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
(QS Muhammad : 7)


Thursday, February 08, 2007

SIP LAH !

Kayaknya template ini udah cocok
cool, kayak saya hehehe...