Monday, March 26, 2007

HANGAT, NIKMAT, BERPAHALA

Fiuhh...
Mungkin malam yang mendung ini cocok untuk menggambarkan kepenatan saya beberapa hari terakhir ini. Shalat isya di tengah sejuknya bandung utara tidak membuat lompatan demi lompatan pikiran jadi terkendali. Bisnis lagi sedikit stagnan, saya asumsikan karena pencatatan yang kurang rapi. Maka malam itupun saya memutuskan untuk mencari-cari software keuangan di sebuah toko buku terkenal.

Kunci stang saya pasangkan, dan pintu mobil pun saya tutup. Toko buku tersebut ada di dalam sebuah mall yang sangat luas. Dan, saya baru sadar, sudah lama sekali kaki ini tidak menginjakkan dirinya di tempat yang menjadi ikon materialisme, cieh...

Dan ada yang beda. Perasaan dulu-dulu, kalaupun pergi ke tempat kayak gini, ngga ada cerita Agah jalan sendirian. Kalo ngga bareng keluarga, ya pasti barengan temen. Temen dalam artian sebenarnya, bukan temen tanda kutip. Karena saya adalah anggota pasukan pengibar bendera jomblo sebelum janur kuning terpampang hehehe...

Belum jauh kaki beranjak dari mobil, saya melihat dunia yang sungguh lain. Di pelataran mall, mungkin ditempati oleh sekitar enam kafe, saya melihat cukup banyak pengunjung seusia saya yang dengan asyiknya bercengkrama dengan teman se-geng-nya.

Dunia ini tampak sangat lain bagi saya, karena saya tahu persis akan tingginya biaya yang mereka keluarkan demi secangkir kopi, misalnya. Sementara dalam minggu-minggu ini, saya kelimpungan memikirkan gimana caranya agar penjualan usaha meningkat. Life its so easy for them, i think...

Ok, saya ngerti betul bahwa mereka bukan mengeluarkan uang untuk membeli makanan. Tapi demi sebuah pengalaman. Mata kuliah marketing banget lah! Yang mereka konsumsi bukanlah makan atau minum, tapi memorable experience saat semua aspek makanan, minuman, interior, kehangatan, dan kenyamanan membaur menjadi satu.

Masalahnya, standar yang digunakan ialah standar layar kaca, yang biasa kita liat di TV-TV. Yang tidak semua bisa menikmatinya, betul !?

Maka sepulang dari sana, saya singgah sebentar di sebuah jalan sepi. Dimana disana terlihat penjual nasi goreng yang nampaknya berharap keras agar pembeli menghampirinya. Sudah jam sepuluh malam, dan akhirnya Allah kirimkan seseorang untuk menjadi jalan rezeki baginya.

Orang itu adalah saya, dan senyumannya pun menyapa saya. Setelah memesan dan duduk. Saya menikmati tarian tubuhnya. Caranya memotong, caranya menggoreng, caranya mencampur. Dan ditutup dengan sajian menu dengan asap mengepul di atasnya.

Ditambah segelas teh yang baru saja diseduh.
Saya rasa, inilah kehangatan sejati.

Hangat, nikmat, berpahala, dan tidak lupa
Ga bikin dompet jebol hehehe...

Sunday, February 25, 2007

OM AGAH

“Om Agah, kemaren Ajay disuntik loh!”

Ya Allah, sejak kapan status saya jadi om-om hehehe

”Oh gitu, nangis ngga?” Tanya saya penasaran

”Nangis, abis sakit sih”

Tiba-tiba satu lagi anak perempuan temen se-geng-nya si Ajay mendekat

”Kalo saya mah ngga nangis loh Om”

”Wah hebat!, dulu pas pertama pake anting nangis ngga?”

”Ngga” Jawabnya bangga

Wah si Ajay kayaknya sirik tuh temennya saya puji

”Eh Jay, lain kali kalo disuntik lagi ngga akan nangis kan?”

”Ngga!”

”Nah, gitu dong, hebat! Om Agah pulang dulu ya...Assalamu’alaikum”

”Kum Salam! Dadaah” Jawab mereka serempak

Temen saya yang melihat obrolan ringan itu dari pelataran kosannya nampak senyum-senyum. Entah apa yang dia pikirin.Tapi kalo saya pikir-pikir, ternyata saya punya bakat terpendam ya.

Bakat apaan?
Bakat jadi Om-Om hihihi....

NB : Terimakasih pada pemerintah khususnya Depkes yang telah bersusah payah melakukan imunisasi campak hingga ke pelosok Indonesia, sing ikhlas ya! Aku mendukungmu

SATU LAGI, PAHLAWAN KEHIDUPAN

Alhamdulillah, entah mengapa saya cukup sering dipertemukan orang-orang dengan sifat dan perilakunya mirip. Yaitu mereka yang miskin popularitas, namun banyak memberi manfaat bagi lingkungannya.

“Kalau begitu, bagaimana caranya ibu dapat menghidupi keluarga?”

“Agah, Allah sudah menjamin, bahwa bila kita menolong AgamaNya, maka kitapun akan ditolong olehNya”


Dialog diatas adalah penutup dari obrolan kami pagi itu, di sebuah pelataran masjid kecil Bandung Utara. Saat itu kami sama-sama sedang menunggu seseorang yang nampaknya akan datang terlambat.

Ibu Rika & Pak Munawar namanya, duet maut pahlawan di kompleks perumahannya. Beliau adalah pasangan yang menjadi pengayom bagi belasan atau bahkan puluhan anak yatim. Beliau adalah mereka yang paling sibuk membuat proposal, merancang acara, dan aktifitas2 khas lainnya dalam rangka mengetuk hati donatur, bahwa masalah bangsa ini bukan hanya untuk dikeluhkan.

”Memang, bapak dan ibu kerja dimana?”

Pertanyaan spontan ini muncul karena agak aneh ada suami istri yang kompak bepergian di pagi hari. Karena biasanya kan salah satunya pasti ada yang kerja kantoran.

”Oh, kalo bapak mah ngajar privat Al Quran tiap sore/malam, sedangkan kalo ibu mah mimpin majelis taklim di kompleks”


Jawaban beliau berlanjut dengan aktifitas kesehariannya. Bu Rika menceritakan bahwa suami tercintanya baru saja terkena penyakit jantung. Tidak akut, alhamdulillah, namun tetap perlu perawatan yang tidak sedikit ongkosnya.

“Darimana uangnya?” pikirku

Seperti yang bisa membaca pikiran saya, beliau menjawab
“Alhamdulillah Agah, kami mah selalu berusaha bersikap baik pada lingkungan. Menyapa, tersenyum, dan membantu sebisa kami. Dan mungkin sebagai dampaknya, merekapun banyak membantu kami dalam keseharian. Contohnya saat bapak diberikan surat pengantar dari kelurahan untuk mendapatkan pengobatan secara gratis ke rumah sakit”


Dan ada yang unik disini, semenjak sang suami sakit, ibu Rika menjadi rajin mencari-cari buku yang berhubungan dengan penyakit jantung. Dan setelah beliau membacanya, tidak dipendam di rumah saja. Namun beliau menyampaikannya ke tetangga, dan majelis taklim binaannya mengenai penyakit ini dan solusinya. Maka kini, jadilah beliau konselor kesehatan di lingkungannya.

Yah, Allah memang Maha Adil. Untuk menjadi manusia yang bermanfaat, gelar dan kekayaan bukan merupakan syarat mutlak. Bahkan keduanya bisa menjadi penghambat bila ”gengsi” dikedepankan.

Terakhir, dari obrolan itu, beliau juga berpesan, bahwa perjuangan dalam memberi manfaat bagi lingkungan tidak terlepas dari dukungan pasangan yang memiliki visi hidup yang serupa.

"Waduh ibu, saya mah nikahnya masih lama" Hehehe...

Untuk penyemangat kita-kita nih,

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
(QS Muhammad : 7)


Thursday, February 08, 2007

SIP LAH !

Kayaknya template ini udah cocok
cool, kayak saya hehehe...

UNDER CONSTRUCTION

mohon maaf atas ketidaknyamanan anda
saya lagi nyari2 template yang pas

Tuesday, February 06, 2007

JIWAKU MASIH KERDIL

Malam itu begitu dingin, karena hujan baru saja berhenti. Angin pun kadang masih ingin berhembus, membuat tubuh makin rindu akan kehangatan.

Namun sayup-sayup, muadzin melantunkan undangan. Meminta agar pendengar melangkahkan kakinya menuju rumah Allah. Saat itu Isya, setelah mengenakan baju koko dan sarung, saya hendak membuka pagar rumah. Saat suara lirih itu terdengar

Uhuk, uhuk, uhuk...
Dengan sedikit mengintip, saya mencari-cari sumber batuk tersebut.

Ternyata, di depan pagar ada seorang nenek. Saya taksir umurnya sekitar 70an. Ringkih, dengan pakaian lusuh dan tipis. Berjalan kaki, sendirian, di tengah dinginnya malam. Dengan batuk yang tidak dibuat-buat.

Prasangka berkelebat, lebih ke arah negatif. Tanpa bertanya terlebih dahulu pada beliau, sayapun masuk ke dalam rumah, mengambil uang sebesar tiga ribu rupiah. Saya pikir untuk seorang pengemis, jumlah ini sudah cukup banyak.

Saya keluar, mendekati beliau. Tiga ribu masih ada di saku baju. Dan tanpa diminta, beliau mendahului pembicaraan. Yang membuat uang di saku saya tertahan untuk diberikan pada beliau.

Beliau tidak memiliki keturunan. Kanker rahim penyebabnya. Dan beliau meminta sumbangan untuk biaya operasinya. Deg! saya berfikir uang tiga ribu terlalu sedikit. Sayapun ke dalam dengan rencana mengambil lima ribu. Yang saat itu, saya rasa sudah cukup besar.

Tanpa disangka adik saya bertanya, siapa di luar? Saya jawab begini dan begitu, intinya ada yang minta sumbangan. Dan tanpa pertimbangan berbelit, uang dua puluh ribu ia serahkan kepada saya.

Akhirnya, kami pun memberikan uang senilai dua puluh lima ribu rupiah beserta sebuah jaket bekas yang layak pakai kami sumbangkan kepada beliau. Saat itu saya sedikit tergesa, karena iqamah shalat isya sudah berkumandang. Yang jelas, beliau nampak sangat gembira dengan sumbangan yang kami berikan.

Saat itu, perasaan saya maih biasa.
Barulah setelah shalat saya merenung.

Ya Allah, kerdil sekali jiwa saya...
Padahal saya sanggup menyumbang lebih dari lima ribu. Ga bakalan miskin, ga bakalan jadi kelaperan. Kok kalah sama adik yang bahkan ngga pernah ngaku-ngaku aktivis. Pelit sekali kamu Gah!

Kenapa kamu ngga ngajak beliau makan di rumah, takut ketularan penyakit? Takut rumah jadi kotor? Picik sekali cara berpikirmu Gah!

Padahal saya sanggup mengantarnya ke lembaga sosial terdekat. Siapa tahu biaya operasi beliau menjadi gratis. Siapa tahu beliau bisa diberi modal agar mandiri oleh lembaga zakat tersebut. Egois kamu, mikirin shalat doang!

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu meng-infaq-kan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
(QS Ali Imran 92)

Astagfirullah...
Padahal kamu sering baca surat Al Maa’uun Gah!

Wednesday, January 17, 2007

PARA DAI PAK RAMLI 2

Ternyata sebelum pensiun, beliau bekerja pada sebuah perusahaan asing di Kalimantan. But thats not the point, karena obrolan kami ternyata terus berlanjut hingga terungkapkan bahwa beliau bersama beberapa teman seperjuangannya *cieh* adalah inisiator diadakannya shalat jum’at di perusahaan tersebut.

Karena panggilan keimanan inilah dengan penuh keyakinan, beliau langsung menghadap atasannya, ekspatriat, dan mengutarakan keinginannya agar karyawan muslim disana lebih nyaman dalam beribadah. Dan atas kemudahan dari Allah, ternyata atasannya justru kagum dengan prinsip hidup yang beliau anut.

Bahkan dana pembangunan mushalla disana langsung disupply dari headquarters perusahaan tersebut *kalo ga salah* yang berlokasi di Prancis. Bisa bayangkan amal jariyah yang beliau dan teman seperjuangannya dapat atas setiap orang yang shalat disana? Subhanallah ya!

Nah ada yang lebih hebat.
Pernah denger Pesantren Hidayatullah dengan gerakan tebar da’i senusantaranya? Ternyata Pak Ramli dkk-lah yang menanggung biaya hidup bulanan para da’i yang bertugas di Kalimantan, khususnya yang dekat dengan lokasi kerja beliau. Katanya ”Biarlah mereka (para da’i) fokus berdakwah saja, urusan nafkah biar kami yang handle”

Suatu hari beliau sangat terkejut saat beras yang biasa dikirimnya untuk jatah sebulan ternyata habis dalam waktu kurang dari tiga hari. Apakah dicuri? Bukan. Apakah ludes dimasak para da’i? Ternyata bukan juga. Lalu beliau pun penasaran dan menanyakan hal tersebut.

Apa jawaban para da’i tersebut?
Pak, beras tersebut kami kirimkan pada adik2 kami anak yatim di Jawa sana.
Bagi mereka, beras sangat berharga.
Dan Pak, urusan perut bagi kami nomer sekian.
Karena, yang terpenting bagi kami adalah, dakwah…

...Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…
(QS Ath Thalaq 65 : 2-3)

PARA DAI PAK RAMLI 1

Mungkin saya belum begitu lama mengenal beliau. Pak Ramli, sekretaris DKM Al Muhajirin, sebuah masjid di kompleks saya. Beliau adalah seseorang yang paling sering dipuji etos kerjanya oleh bapak ketua DKM.

For your information, ada sebuah tren siklus hidup bahwa kalo umur udah tua, maka sudah saatnya kembali ke Allah. Alias rajin-rajin ibadah. Nah, di kompleks rumah nih, kebanyakan memang udah pensiun. Ngga heran kalo banyak diantara teman saya yang (walaupun dalam hati, dan saya tahu itu) mengatakan “Gah, kamu dewasa banget” *suwit suwiw* ”Ya iyalah, gaulnya aja sehari-hari sama pensiunan gitu loh!”

Ok, lanjut...
Tren itu dibuktikan dengan survey kecil2an. Bahwa mayoritas peserta shalat adalah bapak2 berusia lanjut. Kalo misalkan ada bapak-bapak yang jarang keliatan, terus tiba-tiba muncul di masjid. Artinya ada tiga kemungkinan. Baru pensiun, baru di-PHK, atau melarikan diri dari omelan istri di rumah. Sori, yang ketiga mah becanda.

Ada bapak-bapak yang cuma fokus di ibadah, seperti shalat. Dan ada juga yang mau berkarya lebih, yaitu menjadi pengurus DKM. Alhamdulillah, para aktivis harusnya malu sama bapak-bapak bersemangat tinggi seperti ini.

Tapi ada masalah nih,
Sehubungan mereka itu mantan pejabat. Jadi, kalo saya amati misalnya pas rapat. Seolah-olah masing-masing ingin menonjol. Dalam artian, pokoknya gua harus ngomong, masalah isi omongannya ngga penting2 amat, itu nomer kesekian. Intinya pengen menonjol. Padahal menonjol yang tidak pada tempatnya, ibarat bisul di pantat. Betul tidak hadirin? Betuuul...*ala Aa Gym*

Yah mirip2 sama aktivis muda yang pengen komentar melulu di forum lah, mereka yang berpendapat, diskusi yang durasinya semalaman dan berlarut-larut adalah ciri kesuksesan musyawarah. Dan setelah itu, mungkin hanya kurang dari seperempat anggota yang masih aktif mengerjakan hasil musyawarah itu selama periode kepengurusan.

Untungnya, Pak Ramli bukan tipe seperti itu.
Beliau sangat amanah dalam perannya sebagai sekretaris. Baik dalam jabatan di pengurus harian, maupun di kepanitiaan. Dan pernah beberapa pekan yang lalu, saya mengobrol agak lama dengan beliau.

BERSAMBUNG

Sunday, January 14, 2007

JATUH CINTA PADA SEORANG IBU-IBU

Kemarin2 saya baru saja jatuh cinta. Bukan dengan wanita sebaya, tapi dengan sorang ibu berusia separuh baya. Dan rasanya memang indah karena sudah cukup lama saya kehilangan energi bernama cinta *orang yang aneh*

Hari itu bertepatan dengan idul adha. Dan seperti rutinitas tahun sebelumnya. Selepas shalat, saya pulang dulu untuk makan pagi dan bermaaf-maafan dengan keluarga. Then, setelah berganti baju dengan setelan yang paling kucel, saya langsung cabut bersama bapak untuk membantu panitia di masjid.

Intermezzo : Tahukah anda siapa yang paling ditakuti oleh seorang narapidana dengan vonis mati? Sang eksekutor? Bukan, namun sang pembaca vonislah orangnya. Karena sang pembaca vonis inilah yang akan menentukan kapan napi dieksekusi, dengan metode apa napi dieksekusi, dsb. Dan, itulah jabatan saya dalam kepanitiaan.

Yap, sayalah sang pembaca nomor urut hewan kurban. Sayalah yang menentukan hewan kurban nomer berapa yang disembelih duluan. Dan hari itu saya telah membuat empat puluh lima domba dan sembilan sapi dieksekusi, tanpa setitik pun noda darah mampir di baju saya. Sungguh manusia berdarah dingin, huahahaha *ketawa ala raksasa*

Heup, tobat ! Kita terusin ceritanya. Nah sorenya kan daging kurban mulai didistribusikan nih. Dan panitia meminta kami, para anak muda belia *halah* untuk mengantarkan daging tersebut ke rumah seorang ibu menggunakan mobil box.

Mobil tiba di sebuah rumah dengan cat krem bertingkat dua. Tidak mewah, namun sulit untuk dibilang tidak bagus. Saya kenal dengan pemiliknya. Ibu P inisialnya. Nah, saat kami tiba ternyata di depan rumah beliau sudah berkumpul banyak ibu-ibu dengan wajah harap-harap cemas.

Dikirain menanti saya, eh ternyata menanti pembagian daging. Oh saya baru tahu bahwa ternyata Ibu P ini diberi jatah sebegitu banyak daging oleh panitia karena memang sudah biasa menjadi koordinator bagi ibu-ibu dhuafa. Dan beliau bersedia menjadikan rumahnya sebagai pos pembagian. Subhanallah, luar biasa ada seorang ibu rumah tangga dengan rasa empati sebesar ini.

Saat itulah saya mulai mengingat-ingat daftar kebaikan beliau selama ini. Hmm, beliau adalah koordinator pengajian ibu-ibu tiap kamis sore di masjid. Baksos juga kalo ngga salah inisiatornya beliau. Trus kalo ramadhan pas shubuh biasanya masjid diserbu oleh ratusan ibu-ibu yang mau tadarus, yang mimpin masih beliau. Dan sekarang pas idul adha, pimpinan ibu-ibu tim pemotong daging di ruang belakang masjid adalah beliau.

Fiuh, sekarang ngga tau kenapa saya melihat beliau nampak begitu cantik di usianya yang separuh baya. Mungkin inilah yang dinamakan inner beauty. Saya jadi inget pas dulu beliau pernah ngomong gini ke saya ”Coba kalo ibu punya anak perempuan, ibu jodohin dengan kamu Gah”

Alhamdulillah-nya nih, anak beliau berjenggot semua. Untung aja, karena hingga kini saya masih menjadi seorang pria yang terlalu mudah untuk jatuh cinta. Bebas euy! Hehehe

Monday, December 25, 2006

SEBUAH KUNJUNGAN YANG TERTUNDA

"Insya Allah saya akan berkunjung ke rumahmu"

Begitulah janjiku padanya saat kami masih sama-sama menjadi pengurus di organisasi dakwah kampus. Sebut saja namanya Arno, dan dari semua rekan sedivisi mungkin hanya dengannya lah saya sering berdebat.

Debat dalam artian adu argumen dengan tempo tinggi, baik itu dalam rapat maupun diskusi empat mata. Karena itulah, saya menyimpan dua perasaan atasnya *deuh* Sebal karena karakter kerasnya, dan senang karena karakter tegasnya.

Dalam kesehariannya Arno adalah seorang mahasiswa yang tekun sehingga secara akademis sangat diatas rata-rata. Ok deh, poin ini bisa jadi jalan dakwah bagi lingkungannya.

Tapi…

Ada satu hal yang menurut saya seharusnya diperbaiki. Yaitu cara berpakaiannya yang terlampau cuek. Bahkan terkadang lusuh dan komposisi warnanya membuat mata cepat lelah.

Saya berpikir, bagaimana mungkin orang lain bisa simpati kalau penampilannya kayak gitu. Karena menurut saya, penampilan adalah salah satu pintu dalam berdakwah. Bukan begitu ?

Alhamdulillah, janji saya untuk mengunjungi rumahnya terlaksana baru beberapa hari yang lalu. Walaupun janji itu sudah sekitar dua tahun saya ikrarkan. Dan ternyata, pada saat itulah pandangan saya terhadapnya berubah drastis.

Hari sudah menjelang gelap saat kami berboncengan motor menuju rumahnya. Awalnya kami memasuki sebuah jalan sempit, hanya muat satu mobil. Perasaan saya masih biasa-biasa. Lalu setelah beberapa belokan, sebuah gang kami masuki. Perasaan saya pun masih biasa saja.

Beberapa rumah kecil berbahan batu bata kami lewati, teruus hingga rumah-rumah yang kami lewati makin sederhana –kalau tidak bisa dibilang kumuh- Dan akhirnya saya disuruhnya menghentikan motor di sebuah tembok yang memiliki pintu dari seng.

Pintu tersebut dibuka *jreng* dan tampak sebuah bedeng disana. Asal tahu, bedeng merupakan sebuah bangunan panjang yang disekat-sekat. Bukan untuk dijadikan kamar, namun justru untuk tempat tinggal.

Ya, disana ada beberapa keluarga perantau yang tinggal di ruangan yang lebih kecil dari kamar pribadi saya. Satu keluarga.

Lalu Arno mengajak saya ke kamar *maaf* rumahnya. Di dalam nampak bapaknya. Saya pun mengobrol ringan dengan beliau. Dari obrolan kami, ternyata beliau adalah seorang pedagang bakso yang rutin mangkal di depan sebuah supermarket.

Subhanallah, penghematan macam apa yang beliau lakukan sehingga anaknya dapat kuliah di sebuah kampus yang tergolong mahal.

Tidak lama berselang, ada suara wanita mengucapkan salam. Saya menoleh, dan ternyata yang datang adalah seorang pedagang jamu. Mungkin baru selesai berkeliling. Nampak letih, namun tetap ersenyum manis.

Tiba-tiba Arno berkata "Gah kenalkan, itu ibu saya" ucapnya mantap

*Sreet* Entah mengapa bukan rasa kasihan yang muncul dalam hati. Walau kini saya tahu kondisi ekonomi mereka. Sebuah rasa bernama kekaguman menyergap. Kagum yang berlipat-lipat. Kagum terhadap spirit luarbiasa dari sepasang orangtua yang sebegitu inginnya agar sang anak mendapatkan pendidikan terbaik.

Saya membayangkan kerja keras macam apa yang beliau berdua lakukan. Saya membayangkan sekuat apa penghematan yang beliau berdua lakukan. Dan Arno tidak menyia-nyiakan pengorbanan itu

Arno, terimakasih...
karena mengizinkan saya menunaikan kunjungan yang tertunda ini
kini saya lebih mengenal, apa artinya bersyukur